Oleh: asiaexc10dewirusiana | Juli 13, 2010

Format Berita TV (4-End)

I. Live by Phone
Live by phone adalah format berita TV yang disiarkan secara langsung dari tempat peristiwa dengan menggunakan telepon ke studio. Lead in berita dibacakan penyar kemudian memanggil reporter untuk menyampaikan laporannya.
Format berita ini dapat disajikan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Memiliki nilai berita yang harus segera disiarkan
2. Tidak mungkin siaran langsung dengan pertimbangan teknis
3. Gambar belum tersedia atau sudah dikirim melalui video streaming, Telkom atau Indosat
4. Wajah reporter dimunculkan dalam grafis supaya pemirsa mengetahuinya.
5. Pada saat melaporkan dapat diinsert dengan gambar atau sama sekali hanya gambar grafis karena gambar sesungguhnya belum tersedia
6. Durasi 40-60 detik.

Berikut contoh beritanya:

J. Phone Record
Phone record adalah format berita TV yang direkam secara langsung dari tempat reporter meliput, tetapi penyiarannya dilakukan secara tunda. Hampir sama dengan live by phone. Hal yang membedakan hanya soal teknis penyiarannya yang dilakukan secara tunda. Format ini jarang digunakan. Format ini hanya digunakan bila sebelumnya kita sudah memperkirakan akan ada gangguan teknis pada saat dilaporkan secara langsung.
Format berita ini dapat disajikan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Memiliki nilai berita
2. Tidak mungkin disiarkan langsung melalui telepon karena ada pertimbangan teknis
3. Gambar belum tersedia atau sudah dikirim melalui video streaming, Telkom atau Indosat
4. Wajah reporter dimunculkan dalam grafis supaya pemirsa mengetahuinya.
5. Pada saat melaporkan dapat diinsert dengan gambar atau sama sekali hanya gambar grafis karena gambar sesungguhnya belum tersedia
6. Durasi 40-60 detik.

K. Visual News
Visual news adalah format berita TV yang hanya menyajikan (rolling) gambar-gambar menarik dan dramatis. Penyiar cukup mengantarkan lead in, kemudian VTR man segera memutar video gambar yang disiapkan redaksi.
Format ini dapat dibuat dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Gambar menarik, dramatis, dan jika dirangkai dapat bercerita secara kronologis
2. Gambar atmosphere sound, seperti dialog-dialog orang dalam sebuah kasus, jeritan manusia, dan pertengkaran-pertengkaran dalam sebuah konflik
3. Disajikan untuk melengkapi berita-berita lainnya yang sejenis
4. Durasi bisa mencapai tiga menit atau sesuai kebutuhan. Ini sangat tergantung pada menarik dan dramatisnya gambar yang tersedia.

Daftar Pustaka:
Drs. Arifin S. Harahap. Jurnalistis Televisi, Teknik Memburu dan Menulis Berita. PT. Indeks. Jakarta. 2007.

Oleh: asiaexc10dewirusiana | Juli 13, 2010

Format Berita TV (3)

F. Live on Cam
Live on Cam adalah format berita TV yang pelaporannya langsung dari lapangan atau tempat peristiwa. Sebelum reporter melaporkan peristiwa, penyiar terlebih dahulu membacakan lead in dan kemudian memanggil reporter di lapangan untuk melaporkan hasil liputannya. Pada saat melaporkan peristiwa, reporter terlebih dahulu muncul untuk menjawab panggulan penyiar. Setelah itu, reporter melaporkan peristiwa secara lengkap dan laporannya diinsert atau disisipi gambar/visual yang relevan.
Tidak semua berita dapat dilaporkan secara langsung, harus betul-betul mempertimbangkannya karena siaran langsung memakan biaya besar. Format berita ini dapat disajikan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Memiliki nilai berita yang besar atau luar biasa
2. Peristiwanya masih berlangsung
3. Kalau peristiwanya sudah berlangsung harus ada bukti-bukti yang patut ditunjukkan secara langsung kepada pemirsa
4. Peliputannya terencana
5. Durasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Berikut contoh beritanya:

G. Live on Tape (LOT)
Live on Tape adalah format berita yang direkam secara langsung di tempat kejadian, namun siarannya delay atau ditunda. Dengan kata lain, reporter merekam laporannya di tempat peristiwa dan penyiarannya dilakukan kemudian.
Format berita ini dapat disajikan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Memiliki nilai berita
2. Ingin menunjukkan bahwa reporter hadir di tempat peristiwa
3. Tidak mungkin disiarkan secara langsung dengan berbagai pertimbangan tekni dan biaya
4. Aktualitas dapat terjaga sekalipun siarannya tunda
5. Durasi sesuai kebutuhan, tetapi harus lebih singkat disbanding durasi format live on cam.

Berikut contoh beritanya:

H. Vox Pop
Vox pop merupakan kependekan dari vox populi (bahasa latin), yang berarti suara rakyat. Ini bukan format berita, tetapi biasanya digunakan untuk melengkapi format berita yang ada. Kita dapat mengutip reaksi berupa komentar atau harapan masyarakat atas berita tertentu. Misalnya, komentar masyarakat atas kenaikan harga BBM, kenaikan harga bahan pokok, Presiden terpilih, kenaikan tariff listrik dan sebagainya.
Anggota masyarakat yang ditanya hendaknya beragam profesi supaya variatif. Jumlahnya sebaiknya minimal 4 orang dan maksimal 5 orang. Pertanyaan yang diajukan cukup satu dan harus sama pada setiap orang. Misalnya, “Bagaimana pendapat Anda atas kenaikan harga BBM?”. Jika orang yang ditanya beragam profesi maka jawabannya pun akan beragam. Inti jawabannya mungkin ada yang tidak setuju dan mungkin ada yang setuju dengan berbagai alasannya. Cari jawaban mereka yang lucu, lugu dan serius supaya enak didengar dan ditonton. Bila jawaban mereka yang lucu, lugu dan serius supaya enak didengar dan ditonton. Bila jawaban mereka terkesan formal sebaiknya dihindari dan cari lagi orang lain yang dapat memberikan jawaban seperti yang diharapkan.
Durasi vox pop sebaiknya jangan lebih dari satu meniy. Karena itu usahakan supaya jawaban mereka singkat dan langsung pada sasaran.

Daftar Pustaka:
Drs. Arifin S. Harahap. Jurnalistis Televisi, Teknik Memburu dan Menulis Berita. PT. Indeks. Jakarta. 2007.

Oleh: asiaexc10dewirusiana | Juli 13, 2010

Format Berita TV (2)

D. Sound On Tape (SOT)
Sound on Tape (SOT) adalah format berita TV yang hanya berisi lead in dan statement (pernyataan) narasumber. Penyiar hanya membacakan lead in berita, kemudian diikuti pernyataan narasumber. Pernyataan yang dikemukakan narasumber tidak boleh mengulang isi lead in. SOT harus merupakan kelanjutan kalimat dari lead in.
Berita ini dapat disajikan dengan ketentuan:
1. Memiliki nilai berita
2. Pernyataan yang dikemukakan narasumber lebih penting ditonjolkan daripada disusun dalam bentuk narasi
3. Kalau dibuat dalam format lain, pernyataan narasumber menjadi tidak utuh dan tidak menarik
4. Narasumber yang mengemukakan pernyataan bisa lebih dari satu orang, baik saling mendukung maupun bertentangan
5. Format ini bisa dibuat sebagai pelengkap berita diatasnya dan bisa juga berdiri sendiri
6. Durasi maksimal satu menit. Namun, jika pernyataan itu luar biasa pentingnya maka boleh lebih dari satu menit dan sesuaikan dengan kebutuhan.

E. Voice Over – Sound on Tape (Vo – SOT)
VO-SOT adalah format berita TV yang memadukan antara voice over dengan sound on tape. Lead ini dan isi tubuh berita dibacakan penyiar. Pada akhir berita dimunculkan SOT narasumber sebagai pelengkap berita yang telah dibacakan. Jadi, ekor sebuah berita diakhiri dengan SOT atau sync dan tidak ada lagi naskah yang dibacakan penyiar.
VO-SOT dapat disusun dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Memiliki nilai berita
2. Gambar yang tersedia kurang menarik dan dramatis
3. Ada bagian pernyataan narasumber (SOT) yang perlu ditonjolkan untuk melengkapi narasi pada akhir berita
4. Durasi maksimal 60 menit, yang terdiri atas 40 detik VO dan 20 detik SOT. Namun jika memungkinkan, sebaiknya durasi keseluruhan dibawah 60 menit supaya berita tidak bertele-tele.

F. Package (PKG)
Package adalah format berita yang lead in-nya dibacakan penyiar, tetapi isi berita dibacakan (dubbing) oleh reporter bersangkutan atau narator lainnya. Pada bagian tubuh berita disisipkan SOT narasumber dan berita ditutup dengan narasi yang dibacakan reporter atau narator lainnya.
Berita package dapat disajikan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Memiliki nilai berita
2. Data yang diperoleh lengkap
3. Gambar menarik dan dramatis
4. Jika gambar memiliki atmosphere sound/natural sound yang menarik dan dramatis dari peristiwa harus dimunculkan supaya memikat penonton
5. Kalau dirasakan penting, reporter dapat muncul (stand up) pada awal maupun akhir berita
6. Durasi maksimal 2 menit 30 detik.

Berikut contoh beritanya:

Daftar Pustaka:
Drs. Arifin S. Harahap. Jurnalistis Televisi, Teknik Memburu dan Menulis Berita. PT. Indeks. Jakarta. 2007.

Oleh: asiaexc10dewirusiana | Juli 13, 2010

Format Berita TV (1)

Sebelum menulis berita dari bahan-bahan berita yang telah terkumpul, reporter TV harus memahami terlebih dahulu format penulisan berita TV. Format penulisan berita TV sangat berbeda dengan surat kabar, majalah maupun radio. Menarik tidaknya sebuah berita TV sangat tergantung pada penentuan format.
Format berita TV dapat ditetapkan sesuai dengan bahan yang diperoleh. Reporter tidak dapat menentukan format secara sembarangan. Ada batasan yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan sebuah format sesuai bahan berita yang diperoleh. Secara umum format berita dapat disajikan sebagai berikut:

A. Reader
Reader adalah format berita TV yang paling sederhana. Reporter cukup menuliskan lead in/teras berita saja untuk dibacakan oleh presenter atau penyiar berita. Berita ini sama sekali tidak memiliki gambar. Berita ini dibuat karena diperoleh menjelang deadline atau ketika program berita tengah mengudara.
Berita ini dapat ditulis dengan ketentuan:
1. Memiliki nilai berita penting
2. Sudah dicek kebenarannya
3. Gambar belum tersedia
4. Peristiwa terjadi menjelang atau saat program berita tengah mengudara
5. Beritanya dapat berhubungan dan tidak berhubungan dengan berita yang tengah ditayangkan.
6. Durasi maksimal 30 detik.

B. Voice Over
Voice over adalah format beruta TV yang lead in dan tubuh beritanya dibacakan penyiar seluruhnya. Sementara penyiar tengah membacakan isi tubuh berita, gambar pun menyertainya sesuai konteks naskah. Atmosphere sound yang terekam dalam gambar dapat dihilangkah atau dimunculkan bila memang dapat membangun suasana peristiwa.
Sebelum menulis berita ini, Anda harus terlebih dahulu melihat gambar yang tersedia dan mencatat gambar-gambar yang diperlukan. Sebab gambar yang diambil seorang juru kamera biasanya panjang, sementara Anda hanya memerlukan gambar beberapa detik saja. Ukurlah waktu gambar yang dapat Anda gunakan dan baru tulis berita sesuai gambar yang tersedia, sehingga berita yang Anda sajikan selaras dengan gambarnya.
Berita ini dapat disajikan dengan ketentuan:
1. Memiliki nilai berita
2. Data yang tersedia terbatas
3. Gambar yang tersedia datar dan kurang dramatis
4. Durasi 20-30 detik.

Berikut contoh beritanya:

C. VO-Grafik
VO-Grafik adalah format berita televisi yang lead in dan isi beritanya seluruhnya dibacakan penyiarnya. Ketika penyiar membacakan tubuh berita, gambar pendukungnya hanya berupa grafik dan tulisan. Tidak ada sama sekali gambar peristiwa, karena saat berita ini dibuat peristiwanya tengah berlangsung dan redaksi belum meneria kiriman gambarnya.
Format Berita ini disusun dengan ketentuan:
1. Memiliki nilai berita besar
2. Gambar belum tersedia
3. Memiliki data yang cukup
4. Durasi maksimal 20 detik.

Daftar Pustaka:
Drs. Arifin S. Harahap. Jurnalistis Televisi, Teknik Memburu dan Menulis Berita. PT. Indeks. Jakarta. 2007.

Oleh: asiaexc10dewirusiana | April 23, 2010

Reporter Mencari Informasi

            Dalam upaya mendapatkan informasi untuk berita kita, seperti informasi yang berhasil didapat dalam tayangan video program investigasi tersebut diatas, diperlukan seni dan teknik tersendiri. Seorang wartawan atau jurnalis atau reporter harus selalu berupaya untuk menjalin persahabatan dan komunikasi yang baik dengan berbagai pihak, seperti: pejabat, pengusaha, pendidik, politikus dan berbagai profesi serta masyarakat umum dari berbagai lapisan. Dalam proses komunikasi itu diupayakan sedemikian rupa agar mampu menciptakan Human relation yang baik atau menciptakan hubungan yang akrab, bersahabat dan memikat perhatian orang lain. Setelah Human relation tercipta, tahap selanjutnya ialah mendapatkan informasi, antara lain dengan cara:

1.    Melakukan kontak dengan berbagai pihak.

2.    Mencatat peristiwa-peristiwa penting

3.    Memeriksa daftar liputan

4.    Mengumpulkan data awal melalui telepon atau datang langsung ke lokasi kejadian atau peristiwa

5.    Melakukan kontak dengan wartawan lain, pejabat, pengusaha, kenalan, atau siapa saja untuk dimintai bantuan informasi (berkomunikasi dengan banyak orang)

6.    Melakukan tindak lanjut (follow Up) atas berita-berita penting sebelumnya

7.    Memantau berita dari media massa lain (Tv, Radio, surat kabar, internet) untuk mengetahui perkembangan informasi terbaru

8.    Mendatangi lokasi peristiwa/ kejadian/ narasumber, untuk dimintai pendapat

9.    Melakukan wawancara berita tentang suatu kasus, kebijakan, atau tentang suatu informasi penting yang sedang menjadi topik pembicaraan di masyarakat atau tentang sesuatu yang kemungkinan akan terjadi (dampak dari suatu kebijakan)

10.    Melakukan konfirmasi dengan pihak terkait untuk mengecek kebenaran tentang apa yang sudah atau akan diliput

Menurut Albert L. Hester, wartawan juga perlu memiliki upaya-upaya, seperti:

1.    Memiliki rasa ingin tahu

2.    Tinggalkan kantor (berita harus dicari di luar kantor)

3.    Berbicaralah dengan berbagai macam orang

4.    Hadirilah pesta-pesta diplomatic karena disana akan dapat diperoleh banyak informasi penting

5.    Jangan lupa baca Koran, nonton Tv dan mendengar radio, untuk mengevaluasi dan mengamati berita-berita yang disusun oleh reporter lain

6.    Jangan segan-segan meniru ide-ide dari surat kabar, TV dan radio lain

7.    Perhatikan siaran-siaran radio dan siaran TV luar negeri, dapat meningkatakan wawasan dan meluaskan perspektif reporter

8.    Sediakan satu map khusus (atau buku catatan) untuk mencatat peristiwa- peristiwa yang akan dating

9.    Pertahankan hubungan baik dengan sumber-sumber berita anda

10.    Kuasai beberapa bahasa (bahasa-bahasa di negeri sendiri dan tentunya bahasa asing)

11.    Berbicaralah dengan banyak politisi, pejabat dan pengusaha karena mereka paling suka mendengarkan dan membicarakan tentang orang lain dan dapat memberi wartawan informasi-informasi penting

12.    Gunakan waktu anda untuk berkeliling di kota anda, maka anda akan dapat melihat apa yang sedang terjadi di kota anda

13.    Ingatlah bahwa redaktur sangat menyenangi reporter yang tampil dengan ide-ide asli

Daftar Pustaka

To Be A Journalist , Menjadi Jurnalis TV, Radio dan Surat Kabar yang Profesional, Jani Yosef, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009

Oleh: asiaexc10dewirusiana | April 23, 2010

Sumber Berita TV

            Sumber berita terkait erat dengan definisi atau pengertian berita itu sendiri, yaitu informasi terkini tentang fakta atau pendapat yang penting, menarik, atau kedua-duanya (penting dan menarik) bagi khalayak yang disebarluaskan melalui media massa. Dalam pengertian tersebut terdapat sumber berita, yaitu ”fakta”, yaitu apa saja yang terjadi, yang ada, yang dilihat, bahkan yang dirasakan, dan “pendapat” berupa pernyataaan atau opini seseorang terkait suatu hal. Yang terpenting dalam hal ini adalah kemampuan “reporter” atau “jurnalis” dalam memilah-milah fakta dan pendapat mana yang memiliki nilai berita atau nilai jurnalistik.

Secara umum, sumber berita terdiri dari:

I.      Sumber berita dari pristiwa atau kejadian ada 2 macam, yaitu:

1.    Kejadian yang Tidak Direncanakan: seperti:

–          Gempa bumi,

–          Gunung meletus,

–          Kebakaran,

–          Kecelakaan lalu lintas;

2.    Kejadian yang direncanakan:

  • Dengan Upacara (Ceremonial):

–          Pelantikan pejabat;

–          Pembukaan seminar

–          Wisuda

–          Peresmian bangunan

–          Pemilihan Umum, dan lain-lain.

–          Sidang pengadilan

–          Perang

  • Tidak dengan Upacara (Non Ceremonial)

–          Kebakaran yang direncanakan

–          Konflik dan perang

–          Pembunuhan berencana

–          Pemerkosaan

–          Dan lain-lain.  

II.      Sumber berita dari orang tertentu.

Sumber berita yang tidak pernah akan habis ialah mausia atau orang. Sepanjang masih ada manusia sepanjang itu pula berita pasti ada. Yang dimaksud dengan oran tertentu disini ialah pendapat dan tindakan atau kegiatan orang-orang tertentu yang mempunyai kelebihan tertentu atau kekurangan tertentu dibanding dengan orang lain pada umumnya. Misalnya pejabat, artis, tokoh agama, dan lain sebagainya.

Meskipun tidak ada kejadian, tetapi pendapat orang tentang suatu peristiwa, program atau rencana atau apa saja yang penting dan menarik dapat menjadi berita.

III.      Sumber-sumber berita lainnya.

Di samping sumber-sumber berita, sebagaimana disebutkan diatas, redaksi media massa juga dapat memperoleh materi berita dari sumber-sumber lain, seperti:

1.    Telepon

2.    Media lain

3.    Kunjungan Pers

4.    Wawasncara Berita

5.    Konferensi Pers (Press Conference)

6.    Pres Release

7.    Informasi dan Lokasi

8.    Follow Up

Dari berbagai sumber tersebut diatas, akan diperoleh banyak informasi untuk program berita kita. Seperti video di bawah ini, dengan sumber-sumber yang berkompeten dan terpercaya akan dapat terkumpul informasi yang baik yang dapat kita informasikan kepada khalayak.

 

Daftar Pustaka

To Be A Journalist , Menjadi Jurnalis TV, Radio dan Surat Kabar yang Profesional, Jani Yosef, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009

Oleh: asiaexc10dewirusiana | April 23, 2010

Laporan Investigasi

            Laporan investigasi merupakan laporan yang dilakukan jurnalis tentang suatu hal, masalah atau kasus yang tidak atau belum muncul di permukaan atau belum diketahui khalayak. Dalam hal ini seorang jurnalis atau reporter menggunakan “kemampuan inteligennya” untuk mengetahui hal-hal yang terkait dengan suatu kasus atau masalah dengan cara mencari tahu hal-hal yang belum diketahui khalayak, mewawancarai pihak-pihak terkait agar dapat memperoleh informasi yang lengkap. Berita seperti ini biasanya cukup menarik perhatian khalayak karena yang disajikan adalah sesuatu yang sebelumnya tidak terungkapkan.

            Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat laporan investigasi, diantaranya mengenai identitas narasumber yang dirahasikan, seperti yang terdapat dalam video di bawah ini.

Daftar Pustaka:

To Be A Journalist, Menjadi Jurnalis TV, Radio dan Surat Kabar yang Profesional, Jani Yosef, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009

Oleh: asiaexc10dewirusiana | April 23, 2010

Wawancara TV Berdasarkan Tingkat Urgensi Masalah

Berdasarkan tingkat urgensi masalah, wawancara TV dibagi menjadi:

1.      Wawancara eksklusif (Exclusive interview), yaitu wawancara tentang suatu masalah yang sangat penting dan paling aktual sehingga perlu sesegera mungkin masyarakat atau khalayak mengetahuinya.

Berikut contoh wawancaranya:

2.      Wawancara pribadi (Prediction interview), yaitu wawancara yang membicarakan atau membahas tentang kemungkinan atau perkiraan dampak atau akibat dari suatu peristiwa atas suatu kebijakan penting.

Berikut contoh wawancaranya:

            Menurut Asep Syamsul, dalam bukunya berjudul “Jurnalistik Praktis”, wawancara sambil lalu (Casual interview) adalah wawancara yang tidak direncanakan secara khusus, berlangsung secara kebetulan, tidak ada perjanjian/kesepakatan terlebih dahulu dengan interviewee. Misalnya wawancara dengan seorang pejabat, sebelum, ditengah berlangsungnya sebuah acara yang ia hadiri, bahkan ketika pejabat tadi berjalan menuju mobilnya untuk pulang. Berikut contoh wawancaranya:

Daftar Pustaka:

To Be A Journalist, Menjadi Jurnalis TV, Radio dan Surat Kabar yang Profesional, Jani Yosef, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009

Oleh: asiaexc10dewirusiana | April 23, 2010

Wawancara TV Berdasarkan Tempatnya

Berdasarkan tempatnya, wawancara televisi terdiri dari:

1.      Wawancara studio (Studio interview), yaitu wawancara yang dilakukan di studio televisi.

Berikut contoh wawancaranya:

2.      Wawancara di lapangan (On the spot interview), yaitu wawancara yang dilakukan di lokasi peristiwa atau ditempat dimana dilakukan liputan berita, ditempat dimana bertemu narasumber (di jalan, pasar, rumah sakit, sawah, terminal, bandara, dalam pesawat, dan lain-lain)

Berikut contoh wawancaranya:

3.      Wawancara pribadi (Personal interview), yaitu wawancara yang dilakukan ditempat dimana seseorang berada untuk memperoleh pendapat atau data pribadi seseorang.

Berikut contoh wawancaranya:

 

Daftar Pustaka:

To Be A Journalist, Menjadi Jurnalis TV, Radio dan Surat Kabar yang Profesional, Jani Yosef, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009

Oleh: asiaexc10dewirusiana | April 23, 2010

Wawancara TV

            Dalam Oxford Advanced Leaner`s Dictionary, dinyatakan bahwa Interview is a meeting between two people to discuss important matters, atau pertemuan antara dua orang untuk mendiskusikan hal-hal yang penting.

            Dalam kenyataannya wawancara (Interview) tidak hanya dilakukan oleh dua orang tetapi kadang-kadang tiga orang atau lebih. Namun demikian intinya tetap sama, yaitu mendiskusikan hal-hal yang penting bagi banyak orang atau bagi khalayak.

            Wawancara selain mendiskusikan atau bertanya jawab tentang suaty hal yang penting juga sebagai salah satu metode pengumpulan informasi. Apabila wawancara itu dilaksanakan dalam siaran berita atau untuk mendapatkan informasi untuk dijadikan berita disebut dengan wawancara berita (News Interview).

Dalam perkembangannya, wawancara tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan informasi melalui tanya jawab antara pewawancara dengan narasumber, tetapi sudah menjadi bagian dari penyajian informasi itu sendiri.

Dengan demikian, yang disebut dengan wawancara adalah, proses kegiatan mendapatkan dan menyajikan informasi penting dalam bentuk tanya jawab antara pewawancara (interviewer)  dengan narasumber (source), atau dengan orang yang diwawancarai (interviewee).

Tahapan wawancara antara lain:

A. Tahapan persiapan

1. Menentukan topik wawancara

2. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan

3. Menghubungi narasumber

B. Tahap pelaksanaan wawancara

1. Menyiapkan pertanyaan-pertanyaan untuk diajukan pada saat wawancara

2. Beberapa saat sebelum wawancara dimulai, pewawancara perlu menciptakan suasana keakraban dengan narasumber, terutama untuk menghilangkan ketegangan yang dialami narasumber

3. Melakukan wawancara yang diawali dengan salam perkenalan kepada narasumber dan mengawali pertanyaan dengan pertanyaan yang mampu menciptakan suasana keakraban, seperti pertanyaan apa kabar, bagaimana perkembangan usaha atau pekerjaan, kemudian baru mulai dengan pertanyaan terkait topik wawancara.

4. Setelah wawancara usai, juga ditutup dengan ucapan terima kasih kepada narasumber, disertai ucapan salam dan terima kasih kepada penonton.

Berikut contoh wawancara televisi yang dilaporkan oleh reporter dari lokasi kejadian:

Daftar Pustaka:

To Be A Journalist, Menjadi Jurnalis TV, Radio dan Surat Kabar yang Profesional, Jani Yosef, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009

Older Posts »

Kategori