Oleh: asiaexc10dewirusiana | April 9, 2010

Reporter Stand Up

 

Dalam menyampaikan laporan atau informasi kepada pemirsa televisi, seorang reporter dari lokasi kejadian dituntut untuk dapat melaporkan berita secara langsung di depan kamera atau disebut stand up. Hal itu seperti yang terlihat dalam video. Reporter tersebut melakukan stand up dari lokasi kejadian, langsung melaporkan informasinya usai anchor membacakan lead dan voice over sebagai informasi awal.

Stand up artinya seorang reporter langsung melaporkan suatu kejadian, peristiwa atau kondisi objek berita langsung dari tempat.

Tidak selamanya seorang reporter mampu stand up dihadapan kamera. Biasanya demam kamera dan perasaan grogi akan menyelimuti para reporter yang baru terjun di lapangan. Reporter harus mampu menguasai perasaan, suara dan hal psikis lainnya berkaitan dengan peristiwa atau kondisi saat dia melaporkan. Dengan kata lain, mental set seorang reporter pada saat stand up harus prima, terutama daya improvisasinya.

Pada saat stand up seorang reporter dilengkapi dengan catatan kecil yang menjadi pointer kejadian atau kondisi yang harus dilaporkan. Tapi detail dan narasinya harus dia improvisasi sendiri. Dan yang tak kalah penting adalah eye contact (kontak mata) antara reporter dengan penonton harus tetap dijaga, karena ribuan bahkan jutaan penonton sedang menontonnya di rumah.

Berikut beberapa alasan melakukan stand up:

  1. Memuaskan pemirsa, jika reporter langsung melaporkan dari tempat kejadian maka pemirsa merasa puas karena kejadian atau peristiwa tersebut diperoleh langsung dari first hand (orang pertama).
  2. Memperlihatkan faktualitas, reporter yang melakukan stand up secara factual dapat memperlihatkan lokasi dan tempat kejadian. Pemirsa akan lebih mempercayai reporter yang lsung berada di tempat kejadian, daripada tidak berada di lokasi tetapi seolah-olah ada disana (misalnya dengan blue screen)
  3. Mengejar aktualitas. Berita TV selalu mengejar aktualitas, dengan cara stand up maka aktualitas sebuah berita sangat dipertaruhkan Jika ada suatu kejadian, misalnya pengepungan tokoh teroris, maka reportase langsung dari lokasi sangat bernilai.
  4. Memperlihatkan how to. Stand up biasanya digunakan dalam reportase yang memperlihatkan cara kerja atau penjelasan tentang profesi tertentu, Dengan cara ini pemirsa langsung dapat melihat how to dari berita yang akan dilaporkan. Cara ini tentu akan membuat pemirsa asyik menikmati berita yang sedang ditontonnya.
  5. Bukti otentik. Stand up dapat dijadikan bukti otentik apabila narasumber tidak mau memberikan keterangan kepada reporter. Maksudnya, kalaupun ada narasumber malas memberi jawaban, karena reportase dilakukan stand up maka kehadiran reporter on the spot sudah merupakan bukti otentik.
  6. Mendekatkan diri secara psikologis. Untuk berita yang melibatkan emosi seseorang secara psikologis, misalnya bencana alam, kcelakaan lalu lintas atau korban kriminalitas, maka kehadiran reporter on the spot akan mendekatkan emosi pemirsa.

Jadi, bagi bagi yang ingin menjadi reporter, sebagai permulaan teruslah berlatih stand up. Anggaplah Anda sedang berada di lokasi suatu kejadian dan Anda secara langsung harus dapat melaporkannya kepada pemirsa. Cara latihan yang dapat dilakukan salah satunya adalah di depan cermin. Anggap mata Anda sedang menatap pemirsa melalui kamera dan mulailah melaporkan berita Anda. Silahkan mencoba.🙂

Daftar Pustaka:

Jurnalistik Televisi, Teori dan Praktek, Askurifai Baksin, Simbioasa Rekatama Media, Bandung, 2006

Jurnalistik Televisi Mutakhir, Morissan, M.A., Kencana, Jakarta, 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: