Oleh: asiaexc10dewirusiana | April 23, 2010

Bagaimana Menjadi Jurnalis TV?

Bagaimana menjadi jurnalis televisi itu seperti pada tayangan video berita televisi diatas tersebut?

Liz Brown, dalam buku Media Carreers: Broadcasting, menyajikan sejumlah prinsip tentang bagaimana menjadi jurnalis TV. Liz Brown menyajikannya dalam bentuk pertanyaan dan jawaban. Prinsip-prinsip yang dikemukakan Liz Brown berikut ini, tentu sudah diadaptasi kedalam dunia jurnalistik televisi di Indonesia.

A. Umur berapa biasanya orang mengawali karir sebagai jurnalis televisi?

Seorang jurnalis televisi minimal harus berpendidikan sarjana. Biasanya stasiun televisi merekrut jurnalis televisi dari kalangan mereka yang baru menyelesaikan pendidikan sarjana (fresh graduate), yang biasanya berusia sekitar 20-an awal.

B. Bagaimana melamar posisi jurnalis televisi?

Stasiub televisi yang membutuhkan banyak jurnalis biasanya memasang iklan lowongan kerja di stasiun televisi tersebut di website atau surat kabar. Anda bisa melamar jika berpikir Anda cocok dengan kualifikasi yang tercantum dalam lowongan kerja itu. Namun, jika stasiun televisi membutuhkan hanya satu atau dua junalismaka stasiun televisi ini biasanya menyampaikan adanya lowongan secara “getok ular”. Oleh karena itu Anda barangkali perlu menjalin jaringan perkawanan dengan mereka yang sudah bekerja di stasiun televisi. Anda juga bisa mengirim lamaran meski tidak ada iklan atau pengumuman adanya lowongan pekerjaan sebagai jurnalis. Siapa tahu, ketika tiba-tiba stasiun televisi membutuhkan satu atau dua jurnalis, Anda mendapat panggilan.

C. Berapa gajinya?

Pada tahun 2007/208, untuk standar Jakarta, jurnalis televisi yang masih menjalani masa training (trainee journalist) berpenghasilan rata-rata lebih dari Rp 2 juta perbulannya.

D. Kualifikasi atau pelatihan apa yang dibutuhkan?

Jurnalis televisi di Indonesia minimal berpendidikan sarjana, dari jurusan apa saja. Pelatihan praktis dalam dunia jurnalistik televisi selama kuliah bisa menjadi nilai tambah. Pengetahuan umum dan kemampuan berbahasa Inggris seringkali menjadi materi tes calon jurnalis televisi.

E. Keterampilan apa yang diperlukan?

Jurnalis televisi mensyaratkan kemampuan menulis dan komunikasi verbal yang sangat baik. Reporter harus memiliki suara yang bagus dan mampu berbicara secara fasih dan jelas (kadang tanpa naskah atau persiapan). Jurnalis televisi harus punya kemampuan melaporkan peristiwa atau isu yang rumit menjadi informasi yang mudah dipahami oleh pemirsa. Dia harus mampu berpikir logis, jelas dan analistis. Jurnalis televisi semestinya seorang yang inovatif dan dinamis. Dia harus memiliki pengetahuan yang luas terhadap isu-isu kontemporer.

F.  Apa saja tugasnya?

Jurnalis televisi bertugas meliput, menulis dan kadang melaporkan berita secara langsung dari lapangan. Jurnalis televisi biasanya meliput berita bersama juru kamera. Materi peliputan bisa berasal dari arahan koordinator peliputan atau atas inisiatif sendiri. Sebelum melakukan peliputan, terlebih dahulu jurnalistik televisi sebaiknya melakukan riset terkait isu atau peristiwa yang akan diliput. Jurnalistik televisi harus menjalin kontak serta membangun jaringan dengan sumber-sumber informasi, seperti polisi, rumah sakit, pejabat pemerintah, dan lain sebagainya. Jurnalis televisi sebaiknya memproduksi beritanya sendiri, mulai dari menulis, dubbing, serta mendampingi editor mengedit gambar dan kemudian menyerahkannya kepada produser.

G.  Posisi atau karir selanjutnya?

Jurnalis televisi di Indonesia, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, seringkali dianggap sebagai posisi awal atau posisi dasar untuk menapak ke jenjang karir selanjutnya. Jurnalis relevisi, yang berangkat dari reporter, umumnya bisa dipromosikan berikutnya menjadi asisten produser atau asisten koordinator liputan.

H. Keuntungan lainnya?

Di lapangan, jurnalis televisi bertemu dengan banyak orang penting dan berpengaruh di masyarakat, dan ini jelas akan memperluas pergaulan. Jurnalis televisi seringkali melakukan peliputan atau luar daerah, bahkan luar negeri. Jurnalistis televisi seringkali menjadi “saksi sejarah” suatu peristiwa.

Daftar Pustaka:

Usman KS, Television News Reporting and Writing , Ghalia Indonesia, Juni 2009, Bogor


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: